Baca Berita

Skinhead Jamboree Malang 2017 - Unity In Diversity

Oleh : webmaster | 10 Agustus 2017 | Dibaca : 2866 Pengunjung

Telah usai gelaran Skinhead Jamboree 2017 yang diselenggarakan di Malang beberapa hari lalu tanggal 5 Agustus tapi kenangan itu rasanya masih belum bisa move on dari diri saya. Sempat merinding melihat kawan-kawan dari berbagai daerah yang datang saling sapa dan bersalaman yang seolah menjadi momen pertemuan kembali sahabat-sahabat yang lama tak berjumpa. Ah yang pasti acara ini akan selalu saya kenang sampai kapan pun.
 
Waktu menunjukkan pukul 14.00 wib sesuai dengan rundown acara harus segera dimulai. Suasana di depan venue sudah mulai terlihat ramai oleh orang-orang berambut cepak. Sebagai salah satu panitia, saya bertugas untuk memastikan bahwa panggung, soundsystem dan sebagainya siap untuk digunakan. Kami pun segera open gate penanda acara resmi dimulai. Sang MC amatir mulai memanggil band pengisi sesuai rundown yang berada ditangannya. Mengulangi beberapa kali panggilannya, namun band tak kunjung beranjak ke panggung. Kami pun berunding sejenak untuk melakukan skip pada band selanjutnya. Hal yang sama terjadi pula pada band kedua sampai band ke 4, dan waktu sudah menunjukkan hampir pukul 16.00 wib. Kami mulai panik, saya yang awalnya bukan sebagai stage manager akhirnya mau tidak mau menggantikan posisi kawan. Pertimbangan kami setelah acara molor hampir 2 jam adalah tidak memainkan band-band lokal Malang atau memotong durasi band yang bakal tampil. Keduanya merupakan pilihan yang sulit untuk diputuskan. Kami berdiskusi sejenak dan akhirnya kita memutuskan untuk memainkan band yang sudah lengkap personelnya. Saya meminta Mad Brothers (Ska Punk dari Malang) untuk naik ke atas panggung sebagai band pembuka, dengan kebesaran hati mereka, Mad Brothers akhirnya sebagai band yang membuka Skinhead Jamboree 2017.
 
Penonton mulai mendekat ke arah panggung satu per satu. Seruan kawan-kawan Mad Brothers dengan beat ska punk-nya memancing pengunjung beranjak masuk ke dalam venue. Setelah membawakan beberapa materi lagunya, Mad Brothers yang memang sangat menguasai panggung dan bisa membawa penonton untuk berbaur, saya berfikir bahwa mereka memang layak ditempatkan di prime time, namun sekali lagi karena kebesaran hati mereka dan demi suksesnya acara ini, maka mendahulukan band kawan-kawan dari luar kota yang sudah berkenan hadir agar dapat bermain dengan nyaman dan berpuas hati menjadi tujuan seluruh panitia.
 
Berlanjut pada giliran band selanjutnya, kita mengulang panggilan sesuai dengan urutan pertama. Beberapa saat kita tunggu dan ulang sekali lagi panggilan, namun mereka memang masih belum siap. Lanjut band selanjutnya, tetap sama menunggu dan mengulang panggilan, hasilnya sama juga hingga panggilan band keempat yaitu The Stronger dari Blitar mamastikan siap untuk bermain. Kepanikan sedikit meredam, setidaknya tidak memperparah kemoloran. Setelah bermain cantik dengan lagu-lagu anthem mereka, giliran band selanjutnya kita undangan untuk mengisi panggung. Seperti yang kita lakukan sebelumnya, panggilan untuk band dari urutan awal kita lakukan. Skip jika beberapa kali panggilan dan jeda waktu tidak ada respon, lanjut ke band berikut sampai band yang siap untuk tampil.
 
Selanjutnya The Young’s Boot, band Oi! Dari Malang dengan lagu andalannya Malang Skinhead semakin menarik penonton yang masih di luar untuk masuk dan bergabung dengan kawan-kawan lainnya di arena pogo. Panggilan berikutnya kita tidak mengulang dari awal dengan pertimbangan durasi yang semakin habis sedang band yang akan tampil masih sangat banyak, tentu bisa dibayangkan band akan berjubel berebut porsi durasi panggung di jam 7 sampai jam 9. Saya akan sangat berdosa pada kawan-kawan dari luar kota. Demi mengantisipasi hal itu, kita jalankan “plan B” yaitu dengan mendiskualifikasi band yang sejak dari awal tidak merespon panggilan sang MC.
 
Penampil berikutnya band dari Manado Specialis Tendangan Bebas berhasil memukau penonton, khususnya saya pribadi. Dari lagu ke lagu yang berhasil dimainkan, rasanya saya wajib menjadikan rilisan mereka dalam deretan koleksi rilisan saya.
 
Specialis Tendangan Bebas menjadi band terakhir disesi pertama yang dilanjut dengan break sholat maghrib. Band-band yang tampil masih 4 sedang dalam rundown seharusnya 10 band sebelum break. Hal ini menjadikan kepanikan panitia. Bisa dibayangkan betapa susahnya stage manager mengatur durasi setelah break dengan adanya tambahan 6 band tadi.
 
Waktu menunjukkan Pukul 18.00 tanda break telah usai dan acara kita lanjut. Sebagai perform pertama disesi kedua adalah Self Revolution. Band clock work dari Malang ini selalu tampil enerjik dan melucu disetiap aksi panggungnya. You’ll Never Walk Alone menjadi anthem andalan mereka.
 
Oi oi oi S.C Troopers band Serang sebagai band yang tampil berikutnya. Kalau saya mengalihkan pandangan membelakangi panggung, saya memastikan bahwa yang sedang main ini adalah band Oi! Dari Jerman. Musiknya Jerman banget, berat, padat dengan riff gitar cantik. Tos buat S.C. Troopers kalian memang layak.
 
The Sharp Oi! Band from Bali The Boldness giliran naik keatas panggung. Memainkan lagu-lagu milik mereka yang sempat diproduksi oleh Rusty Knife records asal Perancis dalam proyek split dengan band dari Brazil. Good luck buat The Boldness ditunggu karya-karya berikutnya.
 
Soldier Oi! dari Cimahi juga merupakan Sharp Oi! band yang tampil di acara Skinhead Jamboree 2017. We Are The Skinhead adalah lagu yang ditunggu-tunggu penonton untuk ber-singalong. Aset yang berharga dari West Flower City.
 
Penampilan berikutnya adalah Antiloser, band streetpunk dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Melihat dari sosok sang pentolan yang kalem namun lagu-lagunya serius sekali plus riff-riff gitar metal ala speed metal 80’an semakin mengukuhkan bahwa Antiloser berisikan muatan-muatan berbahaya. Pesan dari saya secara pribadi “Ngapunten nggeh mas Rulli durasi ne disunat”. Antiloser yang sedianya membawakan 9 lagu andalan hanya memainkan 4/5 saja dikarenakan waktu yang terpangkas akibat molornya jadwal di awal acara tadi. By the way matur suwun sanget nggo Antiloser semoga kita bersua kembali.
 
Kemudian Plester–X, legendary streetpunk band dari Surabaya. Baru kali ini saya melihat mereka tampil dengan tambahan instrument Bagpipes atau mungkin saya memang terlambat beberapa set ya hehehe. Makin merinding aja saya berada di depan panggung menikmati penampilan Plester-X.
 
Legendary Oi! band dari Semarang G-Squad ikut hadir di gelaran Skinhead Jamboree 2017 kali ini. Ada yang istimewa di acara ini bagi G-Squad yaitu menjadi panggung terakhir bagi sang vokalis dalam perjalanannya bersama G-Squad. Skinhead Jamboree 2017 di Malang ini menjadi momen special bagi mereka secara pribadi (band) dan khususnya Indonesia skinhead scene. Selamat menempuh jalan lurus sahabatku Istajib Barlian aka Tatank.
 
Barber Shop band Oi! dari kota Solo dalam penampilan yang memukau penonton seraya mengajak sinngalong dalam setiap lagu-lagunya semakin memanaskan arena pogo. Bocah tua nakal, semangat mereka masih membara tergambarkan di beat lagu-lagunya yang penuh hore! Oooooonani…
 
Dan dihajar lagi oleh penampil berikutnya, RJ Power!!!!! Perut buncit squad dengan lagu-lagu ceria mereka selalu dipenuhi dengan singalong para penonton. Sering sepanggung dengan mereka, salah satu ciri khasnya adalah panggung selalu penuh sesak dengan crowd yang berebut mickropon. Makin ceria acara Skinhead Jamboree 2017 ini dengan hadirnya RJ Power!!!! Sampai ketemu sam….!
 
Selanjutnya penampilan band Oi! Dari Depok, Scum. Dengan sound berat, vocal parau dan berat, beat cepat karakteristik sound eropa. Keren banget, sangat berselera bila mendengar sound seperti ini plus riff gitar yang cantik. Mantab buat Scum!
 
Penampilan Bretel band Oi! dari Jakarta menambah maraknya suasana jamboree. Sound dan ketukan drum oldschool ala british 80’an menggugah selera saya untuk lebih menikmati gelaran ini. Satu lagi band yang menjadikan acara ini sebagai momentum special dalam sejarah mereka. Bretel juga bakal kehilangan sang vokalis. Acara ini sebagai farewell gig bagi mereka bersama sang vokalis Eday. Momen yang bakal tak pernah terlupakan bagi Bretel dan Indonesia skinhead scene pada khususnya.
 
Hitcock adalah street rock dari kota Bandung bermain sangat rapih dan enerjik. Terus menerus panggung ini diisi oleh band-band yang memang mumpuni bermain di zona prime time. Performa dari individu, band serta penguasaan instrument yang pro patut dijadikan contoh. Hasilnya tentu saja permainan musik yang enak untuk dinikmati, tos buat Hitcock!
 
Selanjutnya Jaguar Plontos band Oi! dari Bangil. Saran dari saya lain kali jangan terlambat kasihan band kawan-kawan yang lain okay. Secara musikalitas bagus, saya juga sempat share lagu-lagu mereka ke scene eropa dan responnya cukup bagus. Tidak ada band yang sempurna, namun belajar dan mau mengubah sikap adalah proses menuju sempurna.
 
Penampilan terakhir adalah No Man’s Land, no comment ah….. Karena durasi yang sudah habis serta kerusakan drum yang lumayan parah, kami hanya bermain 3 lagu saja. Penampilan terpendek dalam sejarah perjalanan karir No Man’s Land sebagai band selama 23 tahun.
 
Skinhead Jamboree 2017 berakhir sekitar pukul 22.30. Atas nama seluruh panitia kami mengucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh kawan-kawan/bands yang apabila dalam penyelenggaraan banyak sekali kekurangan, sampai ketemu sahabat semua, maju terus Skinhead Indonesia!.
 
Oleh: Didit Samodra


Oleh : webmaster | 10 Agustus 2017 | Dibaca : 2866 Pengunjung


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya :

 



Foto
No Album.

Statistik Pengunjung


129465

Pengunjung hari ini : 6
Total pengunjung : 56690

Hits hari ini : 68
Total Hits : 129465

Pengunjung Online: 1


Copyright 2006 - 2015 © Skinhead Indonesia - Email : skinheadjambore@gmail.com

Follow us on